Laman

Info Sehat

Selasa, 16 Maret 2010

Terapi Obat Tak Membantu Diabetesi


Penyakit diabetes jelas meningkatkan risiko terkena salah satu dari berbagai gangguan kardiovaskular, termasuk serangan jantung, hipertensi, atau stroke. Untuk mengurangi risiko jantung, biasanya dokter akan memberikan obat untuk mengembalikan kadar abnormal lemak darah.

Sayangnya, studi terbaru menunjukkan terapi obat-obatan untuk mengendalikan tekanan darah dan menurunkan gula darah tidak banyak membantu mencegah penyakit kardiovaskular. Malah, terapi obat pada beberapa kasus menimbulkan efek samping.

Satu dekade lalu, pejabat kesehatan di Amerika Serikat melakukan tiga penelitian untuk melihat apakah tiga jenis terapi yang intensif untuk menurunkan gula darah, tekanan darah atau lemak darah efektif untuk mencegah serangan jantung dan stroke pada penderita diabetes (diabetesi).

Satu penelitian tentang gula darah dihentikan dua tahun lalu ketika para peneliti melihat terapi pengendalian gula darah tidak banyak berpengaruh. Namun begitu, dua penelitian masih berlangsung.

Pada penelitian tentang lemak darah (trigliserida) yang dilakukan para peneliti dari Columbia University dan melibatkan 5.500 diabetesi yang juga memiliki faktor risiko penyakit jantung lain, yakni hipertensi dan kolesterol yang tinggi.

Seluruh responden mendapat statin, penurun kolesterol. Separuh responden mendapat obat penurun trigliserida dan sisanya obat dummy. Lima tahun kemudian diketahui seluruh kelompok responden memiliki angka kejadian serangan jantung dan stroke yang sama. Ini berarti, terapi obat tidak banyak membantu.

Dari hasil penelitian, terbukti terapi yang insentif lewat obat-obatan tidak mampu mengurangi angka kejadian serangan jantung, meski bisa mencegah stroke. Kendati demikian, para ahli tidak menyarankan para diabetesi untuk berhenti minum obat tanpa berkonsultasi kepada dokter.

Lalu apa yang harus dilakukan para diabetesi? Tetap fokus pada pola makan dan gaya hidup yang sehat dan tetap mencoba obat yang direkomendasikan dokter untuk mengurangi risiko penyakit. Demikian menurut Dr.Clyde Yancy, kardiolog dan presiden American Heart Association.

Bagi penderita diabetes, disarankan untuk makan makanan yang bervariasi agar tercapai keseimbangan antara karbohidrat, protein dan lemak. Sebagian diabetesi bisa mengendalikan gula darahnya hanya dengan makan tiga kali sehari dan menghindari makanan manis. Sementara sisanya perlu diet ketat.

Untuk mengurangi risiko penyakit jantung, lakukan olahraga karena akan meningkatkan aliran darah melalui pembuluh-pembuluh darah kecil dan meningkatkan efisiensi daya pompa jantung. [kompas]


TESTIMONI PENDERITA DIABETES

Perkenalkan nama saya Aep Sutisna, Saya seorang manager BUMN PT. Kertas Padalarang yang mempunyai penyakit kencing manis (diabetes) sejah 10 tahun yang lalu.

Angka gula darah saya 210 mg/100ml, 2 jam pp (setelah makan). Angka tertinggi yang tercatat pada tanggal 1 juli 2005 sebesar 397 mg (2 jam pp). sejak 23 Agustus 2005 saya mulai mengkonsumsi propolis dengan dosis 3 kali sehari masing-masing 7 tetes.
>> baca selanjutnya

Untuk Konsultasi dan Pengobatan dengan Propolis
Hubungi : SUTONO : 083 887 38519

Tidak ada komentar:

Posting Komentar