Laman

Info Sehat

Kamis, 21 Oktober 2010

Tiap Hari, 10 Wanita Dibunuh Kanker Serviks


JAKARTA, KOMPAS.com — Kanker serviks atau kanker leher rahim disinyalir menjadi pembunuh utama wanita Indonesia. Setiap hari diperkirakan 10 wanita di Indonesia meninggal karena kanker serviks.

Kanker serviks disebabkan oleh virus yang disebut human papilloma virus (HPV). Virus ini bermacam-macam tipe, tetapi yang menimbulkan kanker serviks adalah sekitar 20 tipe, yang tersering dan berisiko tinggi adalah tipe 16 dan 18. Penularan umumnya terjadi lewat hubungan seksual (80 persen).

Menurut Prof dr M Farid Aziz, Guru Besar Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), sekitar 80 persen virus HPV akan hilang dan mati karena sistem kekebalan tubuh.

"Sisanya, virus itu akan menetap dan berkembang menjadi sel pra-kanker dan dalam waktu 10-20 tahun bisa menjadi kanker," katanya.

Ia menambahkan, karena perjalanan virus yang lama tersebut, sebenarnya sel kanker bisa ditangkap lewat screening. "Upaya deteksi dini dengan tes pap smear atau IVA bisa menemukan virus pada kondisi pra-kanker," paparnya dalam peluncuran Inisiatif Pencegahan Kanker Serviks di Jakarta, Kamis (21/10/2010).

Pencegahan utama kanker serviks, imbuh Farid, adalah melindungi diri dari faktor risiko dan penyebab, termasuk imunisasi.

"Vaksin HPV membantu sistem imun mengenal dan menghancurkan virus HPV sebelum menginfeksi serta menahan laju penyakitnya," katanya.

Rabu, 13 Oktober 2010

Melia Propolis Obati Keracunan

Endapan Pengawet Makanan yang tidak terserap oleh tubuh menjadi RACUN.
Efek RACUN tersebut tinggal tunggu waktu atau pemicunya saja yang berefek pada SISTEM METABOLISME TUBUH.

Berikut ini riwayat konsumen propolis yang cukup fenomenal:

Usia : 19 Tahun dan waktu lahir terlahir bayi premaure
Pekerjaan : Pembantu rumah tangga
Pola Makan : Sejak usia 10 tahun sangat gemar makan MIE INSTANT (3-4 bungkus tiap hari)
Kesehatan : Mata rabun sejak usia 10 tahun dan tidak bisa baca tulisan, mempunyai kelainan tulang/persendian, berbunyi kalu digerakkan, Alergi, Keputihan berlebih dan mentruasi 6 Bulan Sekali.

Menurut Staf Ahli Propolis dari Mother Nature Health Products – Australia bahwa di bawah kulit konsumen tersebut terdapat timbunan racun dan bakteri “Sapila Coccus”

Berikut ini perkembangan selama dan setelah mengkonsumsi Melia Propolis:

Minum melia Propolis @ 4 tetes 3 kali sehari, hari ke 3 keluar darah dari kuping dan hidung. Timbul jerawat bernanah yang cukup parah pada muka. Mata tertutup, bibir membengkak dan sekujur badan terasa gatal luar biasa. Ini adalah proses pengeluaran racun dalam tubuh (detoxifikasi).
Minum Melia Propolis kemudian di lanjutkan dan dioleskan dibagian yang gatal dan bernanah. Hari Ke – 7 muncul luka-luka bernanah diseputar leher, seperti tampak pada foto disamping
Konsumsi Melia Propolis dan dioleskan pada bagian yang gatal diteruskan
Melia Propolis Mulai di teteskan ke Mata
Hari ke – 9 keluar selaput atau lendir seperti Jelly dari mata
Hari ke – 10 luka / jerawat disekitar muka dan leher mulai mengering dan berkurang, seperti tampak pada foto disamping
Hari ke – 14 kesehatan membaik. sudah tidak timbul nanah lagi di sekitar muka dan leher. Sudah bisa melihat tulisan denganjelas tanpa kaca mata.
Konsumsi Melia Propolis di teruskan dan ditingkatkan menjadi 10 tetes 3 kali sehari.
Saat ini di minggu ke tiga masih ada gatal-gatal di sekitar dada dan punggung. Bunyi dipersendian sudah hilang.
Saat ini di minggu ke tiga masih ada gatal-gatal di sekitar dada dan punggung. Bunyi dipersendian sudah hilang.

Mengenal Pengawet Nipagin

Kisruh penarikan mi instan produksi Indofood di Taiwan terjadi karena negara tersebut mempersoalkan zat pengawet yang salah satunya bernama nipagin atau methyl p-hydroxybenzoate.

Padahal, Codex Alimentarius Commission (CAC), badan yang didirikan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengatur standar pangan, telah memperbolehkan pemakaian zat pengawet ini dalam batas-batas tertentu.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Senin (11/10/2010), menyatakan bahwa Indonesia berpatokan pada CAC dan mengizinkan penggunaan nipagin dalam batas tertentu.

Menurut BPOM, penggunaan nipagin pada mi instan yang beredar di Indonesia saat ini masih dalam batas kendali. Hasil uji sampel kecap pada mi instan yang mengandung nipagin dalam lima tahun terakhir menunjukkan, tidak ada dari kandungan zat pengawet tersebut yang melebihi batas maksimal.

Lalu apa sebenarnya zat bernama methyl p-hydroxybenzoate yang ditemukan dalam kecap mi instan Indofood yang dicemaskan Pemerintah Taiwan itu?

Menurut informasi yang dikutip Badan Pengawas Makanan dan Obat Amerika Serikat atau Food and Drug Administration (FDA), nipagin merupakan zat tambahan untuk mencegah jamur dan ragi. Methyl p-hydroxybenzoate adalah salah satu dari jenis parabens atau pengawet yang banyak digunakan untuk kosmetik dan obat.

Nipagin memiliki nama lain, yakni methylparaben dengan rumus kimia CH3(C6H4(OH)COO). Jenis paraben lain yang juga banyak digunakan adalah propylparaben dan butylparaben.

Menurut FDA, untuk suatu produk biasanya paraben yang digunakan berjumlah lebih dari satu jenis. Pengawet ini biasanya digabung dengan pengawet lain untuk memberikan perlindungan terhadap berbagai jenis mikroorganisme.

Methylparaben adalah jenis paraben yang dapat dihasilkan secara alami dan ditemukan dalam sejumlah buah-buahan, terutama blueberry dan jenis paraben lainnya. Sejauh ini, belum ada bukti bahwa methylparaben dapat menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan pada konsentrasi tertentu dalam penggunaan perawatan tubuh atau kosmetik.

FDA menilai, methylparaben sebagai pengawet yang aman atau generally regarded as safe (GRAS) untuk kosmetik. Di Eropa, methylparaben digunakan sebagai pengawet makanan yang mendapat persetujuan Uni Eropa dengan kode E-218.

Methylparaben juga dapat dimetabolisme oleh bakteri tanah sehingga benar-benar terurai. Methylparaben mudah diserap dari saluran pencernaan atau melalui kulit. Hal ini dihidroliskan menjadi asam p-hidroksibenzoat dan cepat dikeluarkan tanpa akumulasi dalam tubuh.

Di setiap negara, batas maksimum pemakaian nipagin berbeda. Di Amerika Serikat, Kanada, dan Singapura, kadar maksimum nipagin adalah 1.000 mg per kg. Adapun nipagin di Hongkong 550 mg per kg. Di Indonesia, Badan POM telah menetapkan batas maksimal penggunaan nipagin 250 mg per kg.

Selasa, 10 Agustus 2010

Persiapan Puasa bagi Diabetesi


Pertanyaan yang sering diajukan para penderita diabetes (diabetesi) adalah, apakah saya harus puasa? Pertanyaan tersebut menyangkut salah satu Rukun Islam keempat yang mewajibkan puasa bagi umat Muslim. Sebenarnya diabetesi boleh saja berpuasa selama gula darahnya terkendali.

Menurut Prof dr Sri Hartini Kariadi, SpPD-KEMD, dari Universitas Padjadjaran Bandung, dalam keadaan terkendali, baik, dan sedang tidak menderita penyakit lain, diabetesi termasuk orang yang cukup sehat. Karena itu, mereka boleh berpuasa. Bahkan pada sebagian diabetesi, pada akhir puasa ada penurunan kadar gula darah dan kadar kolesterol.

Lantas diabetesi seperti apakah yang aman berpuasa? "Selama gula darahnya terkendali baik, atau kurang dari 180 mg/dl, dan tidak sedang menderita penyakit atau komplikasi berat lainnya," kata Sri Hartini, yang ditemui di sela peluncuran bukunya yang berjudul Diabetes? Siapa Takut! pada akhir Juli lalu di Jakarta.

Selain menentukan kadar gula darah, para diabetesi juga dianjurkan untuk berkonsultasi pada dokter. Dokter nanti akan menentukan tingkat risiko penyakit diabetes yang diderita. Menurut dr Tri Juli Edi dari Divisi Metabolik Endoktrin dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, penderita diabetes berisiko sangat tinggi, yakni yang gula darahnya sering turun atau sedang hamil, jika memutuskan untuk berpuasa, harus di bawah pengawasan ketat dokter (Kompas, 10/8/2010).

Karena itulah, diabetesi yang ingin berpuasa sebaiknya rutin mengontrol kadar gula darahnya, minimal satu bulan sebelum berpuasa. Monitoring gula darah juga wajib dilakukan secara berkala agar keadaan yang berbahaya bisa dicegah, yakni bila gula darah terlalu rendah atau terlalu tinggi.

PROPOLIS ATASI DIABETES
Jawabannya ada di http://produkmelia.multiply.com/journal/item/13/Diabetes_Vs_Propolis_kadar_gula_darah_turun

Kamis, 29 Juli 2010

Virus Vs Manusia, Dulu dan Sekarang


Selasa (5/5), kita membaca berita yang melegakan bahwa "mimpi buruk" influenza A telah—atau segera—usai. Alasannya, karena percepatan penyebaran flu yang telah menewaskan 22 warga Meksiko menurun meskipun masih ada 568 penderita flu tersebut (Kompas, 5/5).

Menurut Menteri Kesehatan Meksiko Jose Angel Cordova, penyebaran virus babi H1N1 dapat ditekan dengan bantuan obat-obatan antivirus flu, penggunaan penutup mulut-hidung, dan kebiasaan mencuci tangan.

Kita berharap keadaan cepat membaik dan tidak ada pandemi yang dikhawatirkan. Namun, dari merebaknya virus H1N1, kita dapat merenungkan beberapa hal, dari pertarungan abadi antara manusia melawan virus pembawa penyakit hingga
perbedaan yang ada antara masa lalu dan kini.

Satu hal yang melegakan adalah sains kedokteran abad ke-21 sudah jauh lebih maju dibandingkan dengan abad ke-20 sekalipun. Bagaimana manusia menangani merebaknya virus influensa A H1N1 dan membandingkannya dengan ketika wabah flu merebak pada tahun 1918 bisa kita ambil sebagai contoh.

Antara 1918 dan 2009

Saat jutaan orang di seluruh dunia mulai ambruk tahun 1918, dokter dan ilmuwan tak punya ide mengenai apa yang sedang terjadi. Ketika epidemi meluas, orang menyalahkan apa saja, dari tanaman hingga buku tua berselimut debu (Reuters, 2/5). Wajar juga kalau saat itu orang tak paham apa yang terjadi karena virus
influenza baru diidentifikasi oleh tim peneliti Inggris tahun 1933.

Hanya selang sebulan setelah warga mulai sakit di Meksiko, para ahli telah berhasil menemukan biang keladi penyakit, yakni virus flu H1N1, pembawa material genetik yang sebagian besar dari babi dan sisanya dari manusia dan burung.

Ilmuwan di Meksiko, Amerika Serikat, dan Selandia Baru setelah itu terus mengirimkan rangkaian utuh RNA—bukan DNA seperti halnya pada manusia—yang dikumpulkan dari 34 sampel virus di perpustakaan publik online.

Itu artinya, ilmuwan di mana pun bisa menggunakan penjelasan di atas untuk menciptakan alat baru guna memerangi virus, seperti kit penguji diagnostik cepat dan vaksin. Kalau tes konvensional paling cepat selesai dua hari, ilmuwan sekarang sedang menyiapkan alat yang bisa mendeteksi virus H1N1 dalam tempo 4 sampai 6 jam saja.

Kalau kit pengetes memastikan yang diidap adalah virus H1N1, maka—seperti dituturkan Direktur Institut Glikomik di Universitas Griffith Australia Mark von Itzstein—pasien diharapkan bisa diobati dalam tempo 48 jam (setelah gejala muncul) dengan Tamiflu, mengarantinanya, dan memantau kesembuhannya.

Kit penguji baru ini, seperti ditulis Tan Ee Lyn yang menulis laporannya untuk Reuters, menggunakan apa yang disebut reaksi berantai polimerase (PCR). Kit PCR bisa mendeteksi virus spesifik H1N1 dalam sampel dengan mendeteksi urutan (sekuens) gen yang khas untuk virus tersebut dan tidak ditemukan pada virus lain.

Dipahami lebih baik

Seperti diulas dalam Laporan Iptek pekan lalu, ihwal mutasi virus kini telah dipahami lebih baik, termasuk virus influensa A H1N1, yang ternyata merupakan hasil percampuran tiga jenis (strain atau galur) virus, yakni strain flu manusia, burung, dan babi.

Kini diketahui virus H1N1 masih dapat ditanggulangi dengan obat antivirus Tamiflu dan Relenza (oseltamivir dan zanamivir), tapi ia resisten terhadap obat antiflu utama lain, yakni amantadine.

Selain virus babi H1N1, ada juga virus manusia H1N1 yang sudah menyebar di dunia meski tidak amat mematikan. Tahun lalu, virus ini berkembang hingga tak mempan Tamiflu. Akan sangat mencemaskan bila virus manusia H1N1 2008 ini bercampur dengan virus manusia/babi karena berpotensi menghadapkan manusia dengan strain flu pandemik yang lebih kebal obat, yang hanya bisa diobati dengan Relenza, yang harus diobatkan dengan dihirup (Newsweek, 11-18/5).

Kita juga masih ada urusan dengan pandemik lebih lama yang banyak menyerang unggas, tapi juga tidak jarang menyerang manusia, yakni virus H5N1. Pandemik ini sudah beredar cukup lama sehingga virus ini telah bercabang menjadi beberapa pohon evolusi, termasuk yang kebal obat.

Kendala penanggulangan

Proses mutasi virus telah diketahui, teknik mendeteksi cepat telah dikembangkan, obat antivirus telah dikembangkan, tapi upaya membebaskan manusia dari serangan virus tampaknya masih tak mudah diwujudkan karena sejumlah alasan.

Newsweek dalam laporannya menyinggung aspek kebijakan yang ditempuh sejumlah negara, termasuk Mesir dan Indonesia, yang bermaksud menegakkan "kedaulatan virus", di mana satu bangsa punya hak atas virus apa pun yang ditemukan di dalam batas wilayahnya dan bisa menolak berbagi informasi atas virus tersebut
dengan WHO atau entitas asing lain. Negara ini juga bisa menuntut semua keuntungan dari vaksin dan produk lain yang dibuat dari virus tersebut.

Prinsip kedaulatan viral ini dipandang mengancam seluruh komunitas global-demikian pula negara yang menegakkan prinsip ini. Sikap Indonesia dikontraskan dengan sikap Meksiko yang dinilai lebih mempertimbangkan tidak saja warganya sendiri, tetapi juga dunia.

Globalisasi versus xenofobia

Satu hal lain yang juga disimak dari merebaknya virus flu A H1N1 adalah betapa virus bisa menyebar cepat, dari Meksiko ke AS, Perancis, Selandia Baru, Kanada, Inggris, dan lainnya. Itulah faktanya, dalam dunia yang terhubung sekarang ini, penyakit bisa melompat, ibaratnya dari kamp pengungsi Afrika ke kota-kota maju
di Barat atau dari desa di Amerika Selatan ke Boston atau Bordeaux.

Di satu sisi, globalisasi dianggap punya kontribusi terhadap cepat meluasnya wabah penyakit. Tetapi—mengambil analogi krisis ekonomi—mundur ke proteksionisme juga bisa besar ongkosnya. Respons ilmiah terkoordinasi dipandang tetap sebagai jalan terbaik untuk maju terus, bukan xenofobia yang dipicu oleh kepanikan (Time, 11/5).

Salah satu pandemi paling maut dalam sejarah manusia—Kematian Hitam pada abad ke-14 yang menewaskan sekitar 25 juta orang di Eropa—memunculkan dislokasi sosial besar-besaran dan keraguan terhadap Tuhan YMK, hal yang lalu dikaitkan dengan berseminya intelektual Renaisans. Serangan kolera di Eropa pada tahun 1830-an juga lalu memicu perbaikan bidang kesehatan masyarakat dan sanitasi.

Kerentanan manusia ternyata justru bisa menciptakan pengetahuan yang bisamembawanya lolos dari penyakit yang paling menakutkan sekalipun.[kompas]

Counter VIRUS dengan PROPOLIS
open this link:
http://bonusharian.multiply.com/reviews/item/21

informasi detil: hubungi: 021-92523338 (RENDRA)