Laman

Info Sehat

Selasa, 10 Agustus 2010

Persiapan Puasa bagi Diabetesi


Pertanyaan yang sering diajukan para penderita diabetes (diabetesi) adalah, apakah saya harus puasa? Pertanyaan tersebut menyangkut salah satu Rukun Islam keempat yang mewajibkan puasa bagi umat Muslim. Sebenarnya diabetesi boleh saja berpuasa selama gula darahnya terkendali.

Menurut Prof dr Sri Hartini Kariadi, SpPD-KEMD, dari Universitas Padjadjaran Bandung, dalam keadaan terkendali, baik, dan sedang tidak menderita penyakit lain, diabetesi termasuk orang yang cukup sehat. Karena itu, mereka boleh berpuasa. Bahkan pada sebagian diabetesi, pada akhir puasa ada penurunan kadar gula darah dan kadar kolesterol.

Lantas diabetesi seperti apakah yang aman berpuasa? "Selama gula darahnya terkendali baik, atau kurang dari 180 mg/dl, dan tidak sedang menderita penyakit atau komplikasi berat lainnya," kata Sri Hartini, yang ditemui di sela peluncuran bukunya yang berjudul Diabetes? Siapa Takut! pada akhir Juli lalu di Jakarta.

Selain menentukan kadar gula darah, para diabetesi juga dianjurkan untuk berkonsultasi pada dokter. Dokter nanti akan menentukan tingkat risiko penyakit diabetes yang diderita. Menurut dr Tri Juli Edi dari Divisi Metabolik Endoktrin dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, penderita diabetes berisiko sangat tinggi, yakni yang gula darahnya sering turun atau sedang hamil, jika memutuskan untuk berpuasa, harus di bawah pengawasan ketat dokter (Kompas, 10/8/2010).

Karena itulah, diabetesi yang ingin berpuasa sebaiknya rutin mengontrol kadar gula darahnya, minimal satu bulan sebelum berpuasa. Monitoring gula darah juga wajib dilakukan secara berkala agar keadaan yang berbahaya bisa dicegah, yakni bila gula darah terlalu rendah atau terlalu tinggi.

PROPOLIS ATASI DIABETES
Jawabannya ada di http://produkmelia.multiply.com/journal/item/13/Diabetes_Vs_Propolis_kadar_gula_darah_turun

Kamis, 29 Juli 2010

Virus Vs Manusia, Dulu dan Sekarang


Selasa (5/5), kita membaca berita yang melegakan bahwa "mimpi buruk" influenza A telah—atau segera—usai. Alasannya, karena percepatan penyebaran flu yang telah menewaskan 22 warga Meksiko menurun meskipun masih ada 568 penderita flu tersebut (Kompas, 5/5).

Menurut Menteri Kesehatan Meksiko Jose Angel Cordova, penyebaran virus babi H1N1 dapat ditekan dengan bantuan obat-obatan antivirus flu, penggunaan penutup mulut-hidung, dan kebiasaan mencuci tangan.

Kita berharap keadaan cepat membaik dan tidak ada pandemi yang dikhawatirkan. Namun, dari merebaknya virus H1N1, kita dapat merenungkan beberapa hal, dari pertarungan abadi antara manusia melawan virus pembawa penyakit hingga
perbedaan yang ada antara masa lalu dan kini.

Satu hal yang melegakan adalah sains kedokteran abad ke-21 sudah jauh lebih maju dibandingkan dengan abad ke-20 sekalipun. Bagaimana manusia menangani merebaknya virus influensa A H1N1 dan membandingkannya dengan ketika wabah flu merebak pada tahun 1918 bisa kita ambil sebagai contoh.

Antara 1918 dan 2009

Saat jutaan orang di seluruh dunia mulai ambruk tahun 1918, dokter dan ilmuwan tak punya ide mengenai apa yang sedang terjadi. Ketika epidemi meluas, orang menyalahkan apa saja, dari tanaman hingga buku tua berselimut debu (Reuters, 2/5). Wajar juga kalau saat itu orang tak paham apa yang terjadi karena virus
influenza baru diidentifikasi oleh tim peneliti Inggris tahun 1933.

Hanya selang sebulan setelah warga mulai sakit di Meksiko, para ahli telah berhasil menemukan biang keladi penyakit, yakni virus flu H1N1, pembawa material genetik yang sebagian besar dari babi dan sisanya dari manusia dan burung.

Ilmuwan di Meksiko, Amerika Serikat, dan Selandia Baru setelah itu terus mengirimkan rangkaian utuh RNA—bukan DNA seperti halnya pada manusia—yang dikumpulkan dari 34 sampel virus di perpustakaan publik online.

Itu artinya, ilmuwan di mana pun bisa menggunakan penjelasan di atas untuk menciptakan alat baru guna memerangi virus, seperti kit penguji diagnostik cepat dan vaksin. Kalau tes konvensional paling cepat selesai dua hari, ilmuwan sekarang sedang menyiapkan alat yang bisa mendeteksi virus H1N1 dalam tempo 4 sampai 6 jam saja.

Kalau kit pengetes memastikan yang diidap adalah virus H1N1, maka—seperti dituturkan Direktur Institut Glikomik di Universitas Griffith Australia Mark von Itzstein—pasien diharapkan bisa diobati dalam tempo 48 jam (setelah gejala muncul) dengan Tamiflu, mengarantinanya, dan memantau kesembuhannya.

Kit penguji baru ini, seperti ditulis Tan Ee Lyn yang menulis laporannya untuk Reuters, menggunakan apa yang disebut reaksi berantai polimerase (PCR). Kit PCR bisa mendeteksi virus spesifik H1N1 dalam sampel dengan mendeteksi urutan (sekuens) gen yang khas untuk virus tersebut dan tidak ditemukan pada virus lain.

Dipahami lebih baik

Seperti diulas dalam Laporan Iptek pekan lalu, ihwal mutasi virus kini telah dipahami lebih baik, termasuk virus influensa A H1N1, yang ternyata merupakan hasil percampuran tiga jenis (strain atau galur) virus, yakni strain flu manusia, burung, dan babi.

Kini diketahui virus H1N1 masih dapat ditanggulangi dengan obat antivirus Tamiflu dan Relenza (oseltamivir dan zanamivir), tapi ia resisten terhadap obat antiflu utama lain, yakni amantadine.

Selain virus babi H1N1, ada juga virus manusia H1N1 yang sudah menyebar di dunia meski tidak amat mematikan. Tahun lalu, virus ini berkembang hingga tak mempan Tamiflu. Akan sangat mencemaskan bila virus manusia H1N1 2008 ini bercampur dengan virus manusia/babi karena berpotensi menghadapkan manusia dengan strain flu pandemik yang lebih kebal obat, yang hanya bisa diobati dengan Relenza, yang harus diobatkan dengan dihirup (Newsweek, 11-18/5).

Kita juga masih ada urusan dengan pandemik lebih lama yang banyak menyerang unggas, tapi juga tidak jarang menyerang manusia, yakni virus H5N1. Pandemik ini sudah beredar cukup lama sehingga virus ini telah bercabang menjadi beberapa pohon evolusi, termasuk yang kebal obat.

Kendala penanggulangan

Proses mutasi virus telah diketahui, teknik mendeteksi cepat telah dikembangkan, obat antivirus telah dikembangkan, tapi upaya membebaskan manusia dari serangan virus tampaknya masih tak mudah diwujudkan karena sejumlah alasan.

Newsweek dalam laporannya menyinggung aspek kebijakan yang ditempuh sejumlah negara, termasuk Mesir dan Indonesia, yang bermaksud menegakkan "kedaulatan virus", di mana satu bangsa punya hak atas virus apa pun yang ditemukan di dalam batas wilayahnya dan bisa menolak berbagi informasi atas virus tersebut
dengan WHO atau entitas asing lain. Negara ini juga bisa menuntut semua keuntungan dari vaksin dan produk lain yang dibuat dari virus tersebut.

Prinsip kedaulatan viral ini dipandang mengancam seluruh komunitas global-demikian pula negara yang menegakkan prinsip ini. Sikap Indonesia dikontraskan dengan sikap Meksiko yang dinilai lebih mempertimbangkan tidak saja warganya sendiri, tetapi juga dunia.

Globalisasi versus xenofobia

Satu hal lain yang juga disimak dari merebaknya virus flu A H1N1 adalah betapa virus bisa menyebar cepat, dari Meksiko ke AS, Perancis, Selandia Baru, Kanada, Inggris, dan lainnya. Itulah faktanya, dalam dunia yang terhubung sekarang ini, penyakit bisa melompat, ibaratnya dari kamp pengungsi Afrika ke kota-kota maju
di Barat atau dari desa di Amerika Selatan ke Boston atau Bordeaux.

Di satu sisi, globalisasi dianggap punya kontribusi terhadap cepat meluasnya wabah penyakit. Tetapi—mengambil analogi krisis ekonomi—mundur ke proteksionisme juga bisa besar ongkosnya. Respons ilmiah terkoordinasi dipandang tetap sebagai jalan terbaik untuk maju terus, bukan xenofobia yang dipicu oleh kepanikan (Time, 11/5).

Salah satu pandemi paling maut dalam sejarah manusia—Kematian Hitam pada abad ke-14 yang menewaskan sekitar 25 juta orang di Eropa—memunculkan dislokasi sosial besar-besaran dan keraguan terhadap Tuhan YMK, hal yang lalu dikaitkan dengan berseminya intelektual Renaisans. Serangan kolera di Eropa pada tahun 1830-an juga lalu memicu perbaikan bidang kesehatan masyarakat dan sanitasi.

Kerentanan manusia ternyata justru bisa menciptakan pengetahuan yang bisamembawanya lolos dari penyakit yang paling menakutkan sekalipun.[kompas]

Counter VIRUS dengan PROPOLIS
open this link:
http://bonusharian.multiply.com/reviews/item/21

informasi detil: hubungi: 021-92523338 (RENDRA)

Kamis, 24 Juni 2010

Perdarahan Penyebab Utama Kematian Ibu

Penyebab langsung kematian ibu terkait kehamilan dan persalinan terutama adalah perdarahan. Kebanyakan perdarahan terjadi setelah bayi dilahirkan. Ini berkaitan dengan plasenta dan relaksasi otot rahim.

Menurut Prof dr Ali Baziad, SpOG, perdarahan setelah persalinan biasanya disebabkan terlalu sering melahirkan. Langkah pencegahan dapat dilakukan dengan menjarangkan kehamilan dan mendeteksi dini gejala anemia selama kehamilan.

"Pemerintah harus turun tangan untuk merevitalisasi program Keluarga Berencana," kata dr Ali yang menjabat Ketua Bidang Kesehatan Ibu dan Anak, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, saat jumpa pers peluncuran Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak, Rabu (23/6/2010), di Jakarta.

Ia menambahkan, bila seorang ibu hanya melahirkan dua atau tiga anak, risiko perdarahan bisa ditekan. "Kalau sudah pernah melahirkan hingga empat atau lima kali, kontraksi rahim akan lebih sulit sehingga perdarahan sulit berhenti," ujarnya.

Proses inisiasi menyusu dini, menurut dr Utami Roesli, SpA dari Sentra Laktasi Indonesia, juga efektif untuk mengurangi risiko perdarahan. "Saat bayi mengisap payudara ibu, hormon oksitoksin akan dilepaskan tubuh dan merangsang rahim untuk berkontraksi sehingga perdarahan akan berkurang," katanya.

Upaya pencegahan lainnya adalah tersedianya tenaga kesehatan yang membantu persalinan. Mengenai hal tersebut, dr Ali mengungkapkan, PB IDI dalam waktu dekat akan memberikan pelatihan kepada dokter umum agar memiliki kompetensi dalam menangani keadaan darurat pada ibu yang melahirkan.

"Paling tidak dokter umum dan bidan bisa mengenali keadaan yang berpotensi menimbulkan komplikasi sehingga kematian ibu bisa dicegah," paparnya. [kompas]

Artikel Berkorelasi : www.obatsakti.com

Aksi PDF untuk Bayi Prematur

Karena lahir terlalu cepat, maka organ-organ tubuh bayi prematur belum cukup matang untuk menjalankan fungsinya. Untuk itu bayi prematur perlu mendapatkan perlakuan khusus, baik di rumah sakit atau di rumah setelah ia boleh di bawa pulang.

Di rumah sakit, bayi prematur dirawat di dalam inkubator untuk menjaga kestabilan suhu tubuhnya karena mereka rentan mengalami hipotermia. "Mereka sangat rentan pada suhu dingin karena belum ada lemak dalam kulitnya," kata Dr.Gilberto R.Pereira, ahli perinatologi dari rumah sakit anak Pennsylvania, Amerika Serikat dalam peluncuran kampanye Peduli Bayi Prematur yang diadakan oleh Wyeth di Jakarta, Kamis (24/6).

Bayi prematur yang telah mencapai berat badan minimal 1800 gram, secara klinis stabil dan mampu menerima asupan nutrisi sudah boleh dibawa pulang. Akan tetapi orangtua perlu menyiapkan diri untuk merawat bayi prematur di rumah.

Dr.Djaja Nataatmadja, Medical Advisor, Clinic Trial Coordinator PT Wyeth Indonesia, mengatakan orangtua yang memiliki bayi prematur bisa melakukan langkah PDF untuk menjaga kondisi bayinya.

Langkah PDF yakni, Pastikan suhu tubuh bayi berada diantara 36,5 - 37,5 derajat celcius untuk menghindari hipotermia dan hipertermia dengan melakukan Kangaroo-care. Medote ini meniru cara kanguru menghangatkan badan anaknya. Caranya, bayi ditelanjangi dan hanya memakai popok serta penutup kepala. Bayi lalu dimasukkan ke dalam baju ibunya dan diletakkan di antara payudara ibu.

Prinsip metode kanguru adalah kulit bayi menempel pada kulit ibu agar bayi bisa mengambil panas dari tubuh ibunya. Metode ini dilakukan selama 24 jam, oleh sebab itu dibutuhkan "ibu pengganti" yang bisa dilakukan oleh ayah atau anggota keluarga lainnya.

Yang kedua adalah Disiplin dalam memberikan asupan makanan 8-10 kali sehari dengan nutrisi yang kaya akan protein, vitamin, mineral, AA, dan DHA. Literatur menyebutkan, pemberian susu tidak boleh terlalu banyak, hanya sekitar 10-30 cc per kilogram berat badan per hari. Penelitian menyebutkan, ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi prematur. Bila bayi masih kesulitan mengisap, pemberian ASI bisa melalui pipet.

Terakhir adalah Fokus pada pemantauan frekuensi BAB dan BAK 4-6 kali per hari, sesuai dengan asupan yang diberikan. Meskipun bisa merawat sendiri, orangtua sebaiknya tetap rajin berkonsultasi dengan dokter selama merawat bayi prematur di rumah.

"Lewat kampanye ini, kami ingin meningkatkan kesadaran tentang risiko dan pentingnya penanganan yang tepat terhadap bayi prematur, salah satunya dengan metode PDF yang mudah diingat ini," kata dr.Djaja. [kompas]

Selasa, 25 Mei 2010

Yuk, Rajin Update Imunisasi Influenza


Banyak yang mengira, imunisasi hanya perlu dilakukan sekali seumur hidup. Anggapan itu tidak selamanya benar. Memang ada imunisasi yang hanya perlu sekali, seperti imunisasi campak. Tapi, ada juga imunisasi yang wajib di update alias diperbarui.

Contohnya, imunisasi influenza. Asrul Hasral, dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumahsakit Kanker Dharmais, Jakarta, bilang, sebaiknya vaksin influenza diperbaharui setahun sekali mengikuti perubahan virus influenza yang juga semakin berkembang. "Flu burung dan flu babi itu kan perkembangan dari virus influenza," ungkapnya.

Imunisasi pneumokok juga perlu diperbaharui sekali dalam dua tahun. Bakteri pneumokok yang penyebarannya lewat udara ini bisa menyebabkan radang paru-paru. "Dari laporan berbagai penelitian, tingkat keberhasilan vaksin pneumokok mencapai 60 persen - 70persen," kata Sukamto Koesno Dokter Spesialis Penyakit Dalam Alergi Imunologi Rumahsakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.

Jadi, tak ada salahnya Anda melakukan imunisasi ulang. Tapi ingat, vaksin pneumokok tidak bisa diberikan kepada sembarang orang. Ibu hamil disarankan tidak menerima suntikan vaksin karena bisa membahayakan.

Sedang kan untuk imunisasi hepatitis A biasanya memang dilakukan sekali seumur hidup. Tetapi, beberapa dokter menyarankan agar vaksin ini juga di-update sekali lagi saat dewasa. Imunisasi ulang ini perlu lantaran Indonesia adalah daerah endemik atau daerah penyebaran yang mudah bagi virus hepatitis A.

Catatan saja, virus hepatitis A berkembang pesat di lingkungan yang sanitasinya tidak begitu baik. Nah, beberapa daerah di Indonesia mempunyai sanitasi yang kurang baik. Oleh sebab itu, imunisasi ini perlu diperbarui. Soalnya, kemungkinan besar imunisasi yang telah kita lakukan saat kecil sudah tidak bisa membendung terjangan virus hepatitis A.

Imunisasi yang juga perlu diperbarui yakni vaksin demam tifoid. Asrul memberi saran agar kita memperbarui vaksin demam tifoid sekali dalam tiga tahun. Demam tifoid atau lebih dikenal dengan tifus ini merupakan infeksi bakteri salmonella typhi. Sebagian besar penularannya melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi pembawa kuman.

Jika pekerjaan berhubungan dengan makanan, semisal tata boga atau membuka warung makan, Anda wajib memperbarui vaksin demam tifoid. Selain itu, kalau mempunyai gaya hidup tak sehat atau sering jajan di luar rumah, Anda juga harus rutin memperbaharui vaksin ini. Begitu juga bila Anda suka bepergian ke daerah-daerah yang menjadi tempat penyebaran demam tifoid.

Ada satu lagi imunisasi yang harus diperbarui: Human Papiloma Virus (HPV). Vaksin ini bisa mencegah virus yang berkembang di daerah anogenital seperti serviks (leher rahim) sehingga menyebabkan kanker leher rahim.

Yang berpotensi terkena penyakit mematikan ini adalah orang yang aktif melakukan hubungan seks. Di Indonesia, pemberian vaksin HPV baru dimulai pada tahun 2000an. Behan ada penelitian di dalam negeri, berapa lama vaksin ini efektif di dalam tubuh. "Sejauh ini, penelitian baru berlangsung tujuh tahun," kata Sukamto. (Kontan/Sanny Cicilia Simbolon)


Berita:

VIRUS INFLUENZA VS PROPOLIS